Mengapa Lebih Banyak Bisnis Gagal Dibandingkan yang Berhasil

Mengapa Lebih Banyak Bisnis Gagal Dibandingkan yang Berhasil - inafina.com
Mengapa Lebih Banyak Bisnis Gagal Dibandingkan yang Berhasil – inafina.com

Untuk dapat memahami bagaimana cara meraih keberhasilan, Anda harus memahami mengapa begitu banyak orang yang gagal. Jika kita percaya angka-angka statistik, dilaporkan bahwa empat di antara lima bisnis telah gagal dalam lima tahun pertama usia mereka. Kemudian di antara bisnis yang masih bertahan, empat dari lima bisnis tersebut akan gagal di empat tahun berikutnya.

Mengapa hal ini terjadi?

Saya telah mengamati dan bekerja sama dengan banyak pebisnis baru yang penuh harapan, silau dengan bayangan masa depan mereka untuk menjadi bos bagi diri mereka sendiri dan menjadi kaya. Mereka kemudian terjun ke dunia bisnis dan secara gegabah memulai bisnisnya dengan mimpi-mimpi menciptakan miliaran rupiah mereka yang pertama.

Jika mereka bersikap jujur pada Anda, maka para pebisnis baru ini akan mengatakan bahwa tujuan mereka memulai bisnis adalah untuk menghasilkan uang dan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Beribu-ribu orang memiliki impian yang sama. Yang sering terjadi impian itu tidak pernah menjelma menjadi kenyataan. Kebanyakan orang tidak memiliki dan tidak pernah mengembangkan keahlian-keahlian dasar berbisnis dan manajemen, padahal keahlian tersebut akan memastikan datangnya keberhasilan pada mereka.

Ketika mereka melihat gaya hidup orang-orang sukses dan jumlah uang yang mereka peroleh. Secara salah mereka merasionalisasikan bahwa perjuangannya pasti tidak akan terlalu berat. Dalam bukunya yang brilian, The E Myth, Michael Garber melukiskan fenomena ini disebut sebagai gejala “kebelet berbisnis”! Dia menjelaskan bahwa kebanyakan orang terlatih dalam satu keahlian teknis, mereka piawai dalam mengerjakan pekerjaan yang bersifat teknis. Mereka mungkin seorang pengacara, dokter, mekanik kendaraan, ahli perhiasan, pialang saham, mandor bangunan, tenaga pemasar, koki, fotografer atau seorang copywriter bidang periklanan yang handal. Tetapi keahlian yang mereka miliki bukan jaminan untuk menjadi seorang pebisnis yang sukses. Karena menjalankan sebuah bisnis membutuhkan keahlian teknis yang khusus dan harus dipelajari seperti halnya keahlian-keahlian yang lain. Sebuah keahlian yang hanya sedikit orang yang mau mempelajarinya sebelum mereka terjun ke dunia bisnis.

Kebanyakan orang yang mengidap “kebelet berbisnis” terburu-buru menceburkan diri dalam bisnis. Mereka memulai bisnisnya dengan meminjam uang dengan jaminan seluruh harta pribadi atau tabungan hidup mereka. Mereka menginvestasikan seluruh uangnya untuk memulai usaha dan menyiapkan segala sesuatunya seperti komputer, furnitur, sewa tempat, pengacara, alat-alat kantor, kop surat, sampai kartu nama. Namun, dalam hiruk pikuk perencanaan dan aktivitas awal ini, satu hal penting yang mereka lupakan adalah pelanggan. Bagaimana menarik perhatian pelanggan dan bagaimana mempertahankan mereka agar tetap loyal menggunakan produk Anda.

Dengan cepat masa bulan madu ini akan berakhir. Kebanyakan kaum “Pebisnis” mentah ini segera menyadari sebenarnya mereka tidak memiliki bisnis sama sekali, yang mereka lakukan hanya membeli sebuah pekerjaan bagi diri mereka sendiri, sebuah pekerjaan yang sangat berat. Mereka sekarang harus bekerja lebih lama dan lebih keras untuk mendapatkan jumlah uang yang lebih sedikit (per jamnya) dibandingkan yang mereka terima dari pekerjaan sebelumnya. Mereka semakin bertambah stres, waktu untuk bersenang-senang dan untuk keluarga menjadi lebih sedikit, mereka dihantui oleh rasa takut akan kehilangan segalanya. Itulah seluruh kenyataan dari impian bisnis mereka.

Hasilnya terkadang fatal. Mereka terlambat menyadari bahwa memiliki sebuah bisnis sendiri berarti akan mempelajari satu set keahlian berbisnis yang sama sekali baru. Jika mereka tidak berinisiatif melakukan sesuatu untuk menguasai keahlian tersebut, maka hal yang akan terjadi selanjutnya adalah kegagalan dalam menjalankan bisnis.

Apa arti sesungguhnya “berbisnis” itu

Perlu disadari bukan saat Anda menjadi seorang teknisi yang hebat melainkan pada saat menjadi seorang pebisnis yang hebatlah Anda akan menciptakan keberhasilan atau kegagalan Anda. Kebanyakan orang yang terjun ke dunia bisnis, tak peduli berapa banyak yang telah mereka pelajari atau seberapa baik mereka yang mempersiapkan diri, tidak dapat membayangkan masalah-masalah dan tantangan-tantangan yang kemudian akan mereka hadapi. Untuk sebagian orang terjun ke dunia bisnis menjadi tantangan terbesar yang pernah mereka hadapi sepanjang hidupnya.

Keberhasilan atau kegagalan dalam bisnis tergantung pada kesanggupan mengatasi tantangan-tantangan tersebut, dan seberapa banyak yang dapat Anda pelajari selama menghadapinya. Semua bisnis pasti memiliki masalah, meskipun tampak baik terlihat dari luar. Semua bisnis membutuhkan perhatian secara terus-menerus. Semua bisnis menuntut sejumlah besar energi, waktu, dan fokus.

Dunia bisnis bukan dunia penuh kilau dan glamor. Terjun ke dunia bisnis berarti bertempur tanpa henti mengatasi masalah dan rintangan. Jangan pernah membiarkan diri Anda membayangkan yang sebaliknya. Oleh karena itu, dunia ini disebut sebagai bisnis, bukan olahraga. Meski demikian, menganggap tantangan yang ada dalam bisnis sebagai satu jenis olahraga dapat membantu meringankan tingkat keseriusan dan perasaan negatif yang dapat menyelimuti hari-hari Anda. Jika Anda bersikap seperti ini, menjalankan bisnis dengan pendekatan santai, Anda pasti akan lebih menikmati tantangan-tantangan dan menemukan solusi-solusi kreatif dengan lebih cepat.

Perlu Anda ketahui bahwa artikel ini ditulis bukan untuk menakut-nakuti Anda untuk berbisnis, justru sebaliknya membantu Anda untuk lebih mempersiapkan diri agar tidak terjebak pada sebuah paradigma sesat yang menganggap bahwa suatu bisnis adalah sarana untuk menjadi kaya dengan cepat. Fokuslah pada penciptaan produk yang dibutuhkan oleh masyarakat dan yakinkan kepada masyarakat bahwa produk Anda memang bisa memecahkan masalah mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp Chat Only