Tips Percaya Diri Berpidato di Depan Umum

Tips Percaya Diri Berpidato di Depan Umum - inafina.com
Tips Percaya Diri Berpidato di Depan Umum – inafina.com

Berikut ini adalah tips percaya diri berpidato di depan umum berdasarkan pengalaman-pengalaman dari para pembicara hebat di seluruh dunia :

Tataplah audiens anda

Saya akan mengatakan betapa pentingnya membuat kontak mata. Pertama, pastikan mendongak dari naskah anda, atau catatan anda. kedua, jangan berbicara kepada dinding dibelakang atau jendela di samping anda. Itu bukan audiens anda. Setiap kali anda mendongak dari naskah anda, tataplah bagian audiens yang berbeda-beda, agar semua kelompok merasa diperhatikan.

Pelajarilah pemenggalan kata dan perubahan suara yang ingin anda gunakan

Beberapa pembicara, jika mereka membaca dari teks, menggarisbawahi kata-kata yang ingin mereka tekankan. Jika anda hanya menggunakan kerangka atau catatan kecil, tandailah gagasan-gagasan atau frase-frase yang ingin anda tekankan. Gunanya ada dua: memastikan anda memberi tekanan pada saat yang tepat, dan memastikan bahwa anda tidak akan berbicara secara monoton, sehingga membuat audiens anda tertidur, terutama jika anda berbicara sehabis makan.

Berdiri tegak

Anda tidak perlu mengambil sikap berbaris, tetapi cukup berdiri dengan enak, jangan menyandarkan diri ke meja mimbar. Bersandar membuat pernapasan anda terganggu, dan tidak sopan.

Kalau ada mikrofon di depan anda, taruhlah pas di mulut anda, atau mintalah teknisi untuk melakukannya. Jangan memaksa diri membungkuk seperti burung bangau. (kalau dapat, periksalah ini sebelum tiba giliran anda bicara). Bicaralah dengan normal ke mikrofon-memang itulah gunanya mikrofon. Kalau anda berteriak keras, suara anda akan sulit di dengar. Jagalah bibir anda dalam jangkauan mikrofon, jangan menoleh atau membalikkan badan untuk menjawab pertanyaan dari samping tanpa mendekatkan mulut anda ke mikrofon.

Humor

Kalau anda tidak sedang mengumumkan obat kanker atau menyatakan perang, ada baiknya mengingat bahwa pidato oleh sebagian orang dianggap sebagai kutukan. Jangan terlalu serius kalau tidak perlu. Meskipun anda memilih topik pembicaraan yang serius, sebagian pendengar tetap senang mendengar humor kecil.

Jangan pernah mengawali humor dengan kalimat-kalimat seperti :

  • “Saya akan menceritakan lelucon kecil”. (tak ada orang yang bilang akan menceritakan lelucon besar).
  • “Ada kejadian lucu ketika saya berangkat kesini”.
  • Ada cerita lucu. Anda pasti suka, benar-benar lucu”.
  • “Hal ini mengingatkan saya pada sebuah lelucon kecil. Anda barangkali pernah mendengarnya, tapi akan saya ceritakan juga”.

Mengapa kalimat-kalimat itu harus dihindari? Karena kalimat-kalimat itu klise. Cara kuno mengawali mengawali atau mengakhiri lelucon. Selain itu, anda bisa beresiko mengecewakan audiens kalau sebelumnya anda menjamin bahwa mereka akan tertawa terbahak-bahak. Anda tentu saja tidak usah mengatakan bahwa mereka mungkin pernah mendengarnya. Pengantar lelucon seperti itu benar-benar aneh.

Untuk alasan yang sama, jangan mengakhiri cerita humor anda dengan berkata, “sungguh, saudara-saudara….”

Sebaiknya anda menyesuaikan lelucon itu dengan pembicaraan anda. Misalkan anda sedang bicara strategi dan pelaksanaannya kepada sekelompok eksekutif bisnis, berikut ini adalah salah satu cerita favorit mengenai topik itu :

Will Rogers mengatakan bahwa ia mempunyai rencana untuk mengakhiri perang dunia I. katanya, “sepanjang pengetahuan saya, masalahnya disebabkan oleh kapal selam jerman, kapal-U, yang menenggelamkan kapal-kapal kita. Rencana saya, kita panaskan saja lautan atlantik sampai titik didih. Nah kalau laut terlalu panas bagi pasukan jerman untuk tetap dibawah, mereka pasti naik ke permukaan. Dengan demikian kita tinggal menunggu di permukaan, dan memukul mereka satu per satu, seperti kalau kita sedang berburu di oklahoma”.

Kemudian Rogers menambahkan, “Anda pasti bertanya bagaimana saya dapat memanaskan lautan atlantik sampai 1000 derajat celcius. Jawaban saya adalah serahkan saja hal itu kepada teknisi. Saya kan politisi”.

Setelah tawa mereda, anda dapat menggambarkan hubungan antara cerita itu dengan perkara yang ingin anda sampaikan. Katakan pada audiens, “sekarang tentang perbedaan antara kebijakan dan implementasinya”.

Kalau anda bicara kepada sekelompok insinyur, anda harus mengambil sudut yang berbeda. Anda dapat berkata, misalnya, “Tidakkah itu menjadi tantangan hebat bagi para insinyur?”

Audiens menanggapi pendekatan ini karena dua alasan :

  • Lucu
  • Perkara itu berhubungan dengan keahlian mereka

Berikut ini contoh tentang penyelesaian masalah serius bagi banyak audiens yang terdiri dari pebisnis dan profesional. Anda dapat meniru salah seorang yang jenius dalam topik seprti itu. Ia mengajukan proposal untuk penyelesaian masalah lalu lintas di kota Jakarta: “buat saja semua jalan satu arah ke utara-biarkan para ahli tata kota yang memikirkannya”.

Setelah audiens tertawa, anda dapat menghubungkan lelucon itu dengan pesan yang ingin anda sampaikan seraya menambahkan, “pendekatan ini mengingatkan kita untuk tidak membuat pendekatan-pendekatan yang terlalu rumit daripada yang sebenarnya”.

Sentuhan vs Sentilan yang merendahkan

Kita telah membicarakan tentang arti bahasa yang lugas, yaitu menghindari kata-kata trendi dan jargon. Ini berlaku juga dalam pidato. jika anda mengingat bahwa pembicaraan publik hanya merupakan suatu bentuk percakapan yang dimodifikasi , dan anda bicara dengan gaya alamiah anda. Audiens pasti memahami anda. mereka akan merasa bahwa anda berbicara kepada mereka, bukan bicara di awang-awang.

Janganlah terlalu jauh melambung dan cobalah menggunakan bahasa sehari-hari

Bahkan di jaman yang serba permisif ini, kata-kata makian atau hujatan yang melecehkan siapapun yang barangkali menjadi pendengar anda akan lebih merugikan anda daripada membantu. Karena itu, kalau anda biasa bicara kasar, anda harus menyesuaikan cara bicara anda. Meskipun misalnya pendengar anda tak peduli jika anda mengatakan “brengsek”, ia akan merasa tidak enak kalau tahu bahwa ungkapan-ungkapan anda membuat istri yang ada di sampingnya merasa tak enak. Lain halnya jika anda kenal akrab dengan audiens anda – misalanya anda berbicara kepada peleton anda- tetapi jika tidak dalam kasus seperti seperti itu, janganlah menggunakan kata-kata kasar dan tak sopan dalam pidato anda.

 

(sumber : http://kandeb.com/blog/tips-berpidato-di-depan-umum/) > dengan sedikit perubahan

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Mobil & Sertifikat (WA Aktif)
Motor (WA Aktif)