Tips Menjadi Seorang Leader dan Mentor yang Hebat

Tips Menjadi Leader dan Mentor yang Hebat - inafina.com
Tips Menjadi Leader dan Mentor yang Hebat – inafina.com

Apakah Anda baru saja dipromosikan ke jenjang yang lebih tinggi di kantor Anda? Semula Anda dekat dengan rekan-rekan Anda yang juga sama-sama duduk sebagai staf, namun ketika diangkat, sikap Anda berubah menjadi 360 derajat. Maksud hati Anda ingin menunjukkan sikap sebagai seorang atasan yang profesional, namun yang muncul adalah perilaku yang justru dijauhi oleh rekan-rekan yang notabene kini menjadi bawahan Anda. Nah, bagaimana upaya Anda agar menjadi atasan yang bukan ditakuti tapi disegani oleh bawahan dan dinilai profesional? Simak tipsnya berikut ini.

Akhir bulan lalu, Kandeb, 28 tahun, merasa seperti mendapat durian runtuh. Ia dipromosikan menjadi manajer keuangan di sebuah perusahaan Multinasional. Tentu saja hatinya senang bukan kepalang. jabatan naik, gaji pun naik. Meski sempat kaget karena tidak menyangka akan dipromosikan dalam waktu secepat itu, Kandeb merasa ia memang berhak mendapatkannya. Tentu saja, karena selama ini ia telah bekerja begitu giat dan berusaha memenuhi semua target yang dibebankan padanya. Tapi setelah beberapa bulan memegang posisi itu, Kandeb merasa teman-teman yang notabene menjadi bawahannya sekarang, bersikap menjauh padanya. Padahal, dulu hubungan mereka bisa dibilang cukup dekat. Kandeb merasa diasingkan dan terkucil. Ini membuatnya stres dan kerja pun tak lagi menyenangkan. Apa yang terjadi sebenarnya?

Ternyata sejak dipromosi, Kandeb berubah menjadi bossy. Sikapnya cenderung seperti ditaktor, termasuk terhadap teman-temannya sendiri. Maksudnya sebenarnya ingin menunjukkan sikap profesional. Di kantor ia berusaha menunjukkan diri sebagai seorang atasan pada mereka. Apa daya teman-temannya terlanjur antipati dengan gaya kepemimpinannya.

Mentor is not a Leader

Bagi orang awam, mentor, pemimpin, manajer memiliki konotasi yang sama yaitu atasan. Tidak ada bedanya satu sama lain. Padahal untuk menjadi mentor yang ideal, khususnya di lingkungan kerja, Anda harus melalui beberapa tahapan dulu. Tahap pertama adalah manajer, tahap kedua leader dan terakhir baru mentor. Untuk menjadi seorang mentor, Anda tidak harus memangku jabatan formal sebagai manajer perusahaan.

Mentor bisa digolongkan menjadi mentor pasif dan aktif. Mentor pasif adalah tokoh yang diidolakan orang banyak. Contohnya, Bung Karno, Steve Jobs atau tokoh-tokoh Agama. Tidak semua orang bisa jadi mentor pasif karena ini tergantung pada kharisma dan potensi yang dimiliki oleh seseorang. Meski begitu, bukan berarti Anda tidak bisa jadi mentor. Kalau Anda mau terus mengasah kemampuan, kesempatan untuk jadi mentor pasti terbuka. Ini yang dimaksud dengan mentor aktif.

Karakteristik utama seorang mentor yang berbeda dengan manajer atau leader adalah kemampuannya memberi inspirasi dan memotivasi orang lain. Contohnya adalah Steve Jobs, pendiri Apple Inc. Kecintaaannya pada komputer dan teknologi tidak hanya jadi semboyan di mulut, tapi juga diwujudkan dalam sikap hidup dan etika bisnisnya. Secara tak langsung ia mengumandangkan sikap hidupnya melalui produk-produknya yang revolusioner. Karena kehebatannya telah diakui oleh dunia, maka ia dijuluki sebagai bapak “Think different”.

Bagaimana caranya mencapai tingkat mentor? Memang tidak mudah, selain intelektualitas yang tinggi, juga dibutuhkan kedewasaan emosi yang matang.

Mentor vs Leader vs Manajer

Apa sebenarnya perbedaan antara manajer, leader, dan mentor? Manajer harus bisa membuat perencanaan, mengkoordinasi dan mengontrol bawahan. Syarat utama untuk menjadi manajer yang baik adalah harus bisa memanage diri sendiri dulu. Bagaimana mungkin bisa memanage orang lain kalau kehidupan sendiri masih kacau balau.

Sementara itu untuk menjadi seorang leader, tidak hanya dibutuhkan kemampuan memimpin atau mengontrol bawahan. Ada beberapa faktor lain agar seseorang bisa menjadi leader yang hebat.

  • Berani menghadapi perubahan dan mengambil risiko. Leader yang hebat harus dinamis, fleksibel dan cepat tanggap terhadap berbagai perubahan, tidak terpaku pada satu keadaan saja.
  • Harus punya mimpi dan visi ke depan. Tapi mimpi itu harus realistis dan bisa diwujudkan dalam kenyataan.
  • Bisa percaya pada orang lain, termasuk bawahannya (empowering) dan bekerja sama dengan baik dalam sebuah tim.
  • Bisa menjadi panutan (modelling).Karena itu seorang leader harus bisa bersikap konsisten. Sekali berkata A, tindakan pun harus A, bukan jadi B atau malah C.
  • Mencintai sesama, tidak menganggap rendah orang lain dan selalu bersikap adil terhadap semua bawahan.

Last but not least. Mentor bukan sekadar orang yang pintar memanage bawahannya. Kemampuan seorang mentor harus jauh melebihi kemampuan leader, apalagi manajer. Mengingat beban yang diemban seorang mentor itu cukup berat, maka ia tidak boleh berhenti belajar (learning). Kalau perlu, melakukan pembelajaran ulang (relearning). Lewat praktek-praktek dan eksperimen, kita baru bisa menggali pengalaman, keahlian dan pelajaran lebih dalam lagi. Selain belajar untuk diri sendiri, sebagai mentor dituntut untuk membagi kembali ilmu dan pengalaman yang telah didapat (teaching) pada bawahan. Pengajaran (teaching) disini, bukan asal main perintah, lalu dilepas begitu saja, tapi dibarengi pendampingan. Sifatnya lebih pada pembimbingan, bukan hanya “memberi pelajaran” kepada bawahan.

Jadi kunci utama mentor adalah harus bisa membagi ilmu pada bawahan atau pengikut dan mencetak pemimpin-pemimpin baru yang lebih tangguh dari dirinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp Chat Only