Respek Terhadap Bawahan Adalah Sebuah Kemuliaan

Respek Terhadap Bawahan Adalah Sebuah Kemuliaan - inafina.com
Respek Terhadap Bawahan Adalah Sebuah Kemuliaan – inafina.com

Sebuah penghinaan dapat membuat orang lebih marah dibandingkan dengan kebencian dan sebuah penghargaan lebih disenangi orang dibandingkan dengan welas asih. Biasanya orang berharap agar lebih dihargai daripada disenangi oleh orang lain.

Jenderal generasi ke tiga, Toku Gawa Ke Mitsu (1604 – 1651) dari Toku Gawa Baku Fu – Jepang, adalah putra ke dua dari jenderal generasi ke dua Toku Gawa Hideo. Sewaktu ia memerintah, terdapat seorang pejabat tinggi bernama Do I Toshi Kachi. Karena Toku Gawa tidak menghisap rokok, maka di dalam kota dilarang menghisap rokok. Akan tetapi larangan menghisap rokok tersebut tidak mampu dilaksanakan oleh semua pihak, selalu saja ada sejumlah tentara yang menghisap dengan diam-diam.

Pada suatu malam, ada beberapa orang yang menghisap rokok di kedai arak dan tiba-tiba mereka dipergoki oleh Do I Toshi Kachi. Orang-orang itu pucat pasi, tak sempat lagi membuang rokok, hanya berdiri diam. Do I Toshi Kachi memerintahkan mereka menutup semua jendela, kemudian ia berkata, “Maaf merepotkan kalian, siapakah yang sudi meminjami saya rokok untuk coba saya hisap?”

Pada mulanya mereka tidak jelas apakah maksudnya, tidak ada yang berani sembarangan bergerak. Do I Toshi Kachi mendesak sebanyak 3 kali, baru ada yang mengeluarkan rokok dan diberikan kepadanya.

Sesudah Do I Toshi Kachi menghisap sebanyak 3, 4 sedotan dengan nikmatnya, dan kemudian ia berkata: “Tak disangka, ternyata rokok begini hebatnya, tak heran kalau kalian tak berhasil berhenti.”

Sesudah berkata, Do I Toshi Kachi hendak meninggalkan tempat. Namun, satu kakinya baru saja melangkahi ambang pintu, tiba-tiba menoleh balik dan berkata, “Kejadian malam ini, saya tidak akan memberitahu Toku Gawa, tetapi mulai hari ini jangan begini lagi, Toku Gawa sangat membenci orang yang merokok.”

Sejak saat itu, perintah larangan merokok baru efektif dan tidak ada lagi orang yang berani menghisapnya di belakang Toku Gawa.

Keponakan dari Carnegie bernama Josephine, pada usia 19 tahun datang ke New York, menjadi sekretaris Carnegie. Kala itu dia baru lulus SMA dan belum memiliki pengalaman sama sekali, wajar telah melakukan sejumlah kekeliruan. Carnegie tanpa sungkan mengkritiknya. Maka dari itu, di dalam pekerjaan, Josephine merasa sangat tertekan.

Suatu hari, sewaktu Josephine melakukan sejumlah pekerjaannya, ia melakukan kesalahan lagi. Carnegie baru saja hendak menyemprotnya, namun ia segera berkata kepada dirinya sendiri, “Tunggu, usiamu lebih tua 2 kali lipat dibandingkan Josephine, pengalaman hidup juga lebih banyak 10.000 kali daripada dia, bagaimana mungkin mengharapkan dia mengerjakan sebaik kamu? Sewaktu umur 19 tahun, kamu mengerjakan apa? Bukankah aku juga sering melakukan kesalahan tolol semacam itu?”

Setelah melakukan introspeksi lalu mengetahui Josephine melakukan kekeliruan lagi, Carnegie tidak seperti dulu untuk langsung menegurnya.

Ia selalu tersenyum ketika berkata kepada Josephine, “Tidak masalah, ini hanyalah kesalahan kecil saja, sesungguhnya, saya barangkali lebih banyak melakukan kesalahan daripada kamu. Tidak seorangpun otomatis langsung serba bisa, sukses hanya bisa diperoleh dari membenahi kesalahan yang terus menerus, apalagi kamu lebih pandai dibandingkan saya sewaktu muda. Saya sendiri juga pernah melakukan lebih banyak kebodohan, oleh karena itu, saya sama sekali tidak ingin mengkritikmu atau siapapun. Akan tetapi, coba kamu lihat, jika kamu lakukan seperti ini, bukankah hasilnya akan lebih baik?”

Mendengar perkataan semacam itu, Josephine tidak lagi merasa tertekan, malahan telah dipenuhi inisiatif. Kemudian, dia betul-betul menjadi seorang sekretaris yang berprestasi. Atasan menasehati bawahan, adalah perwujudan penghargaan individu tertinggi, jangan menilai segalanya berdasarkan standar diri sendiri. Dalam berkomunikasi, seharusnya demikian !

Matahari saja juga memiliki flek hitam, urusan manusia di dunia lebih-lebih tidak mungkin tanpa cela. Sebagai seorang atasan, kadangkala sekarang ataupun di masa lalu juga bisa mempunyai kekurangan.

Selalu menegur kesalahan kecil yang anak buah anda lakukan, bagaikan menggunakan kapak tajam untuk menebas seekor lalat yang hinggap di keningnya, bukankah itu terlalu berlebihan !

Oleh sebab itu, sebuah sistem peraturan yang keras, mungkin untuk sementara bisa membatasi karyawan keluar dari jalur, tapi sulit untuk mengambil hati karyawan. Jika ingin memperoleh ketulusan dan kegairahan karyawan dalam bekerja, di dalam berkomunikasi seharusnya para atasan memiliki “Hati yang seprinsip”.

Para pengusaha Yahudi yang terkenal beranggapan, me-manage karyawan seharusnya harus tegas, tetapi tidak boleh keras dan kejam, tetap harus mempertahankan kelenturan. Bagaimanapun juga, setiap karyawan bukanlah orang suci, mereka mungkin berbuat kesalahan, jika atasan terlalu kencang menekannya, barangkali membuat mereka malah kontra-produktif.

Suatu kali, di Amerika telah terbongkar sebuah komplotan besar penyelundupan berlian, diantaranya terdapat beberapa karyawan yang tertuduh berasal dari perusahaan orang Yahudi. Beberapa wartawan melacak perkembangan kasus tersebut, meminta wawancara tentang motif pelanggaran beberapa karyawan.

Pertanyaan salah seorang reporter wanita terkesan memojokkan. “Perusahaan anda biasanya terkenal dengan kedisiplinan yang baik, mengapa bisa muncul karyawan yang merusak citra perusahaan? Tidakkah Anda merasa kecewa? Bukankah ini menandakan bahwasanya anda tidak me-manage dengan ketat?”

Di luar dugaan, ternyata sang bos menjawab dengan sangat tenang, “Melon tidak ada yang bulat sempurna, manusiapun tidak ada yang sempurna.”

Karyawan perusahaan kami bagaimanapun juga adalah manusia, maka tak terelakkan lagi bisa berbuat kekeliruan, apanya yang mesti diherankan?

Mengenai management yang kurang tegas, saya pikir, bukan begitu halnya, sebaliknya, mungkin standar tuntutan saya kepada mereka terlalu tinggi. Karena kami orang Yahudi menuntut nilai 100 hanya kepada Tuhan dan mesin, tuntutan kepada manusia selamanya adalah nilai 64 (Orang Yahudi menganggap nilai 64 sebagai angka minimal kelulusan).

Perbanyak menggunakan usulan, kurangi menggunakan perintah, baru bawahan bisa menerima dengan senang hati, menurut dan mampu bekerja sama dengan baik.

Namun, Anda bisa mencoba suatu metode yang lain, yaitu memujinya terlebih dahulu, apalagi jika hatinya sedang berbunga, barulah tunjukkan dimana kekurangannya, percayalah ia pasti bisa menerima dengan rendah hati, malah bisa merasa berterima kasih kepada anda.

Makna yang sama, tapi dengan cara penyampaian yang berbeda, efeknya bisa tidak sama, tingkat penerimaan seseorang juga bisa tidak sama.

Carnegie merubah cara berkomunikasinya, barulah ia dapat mencapai tujuan agar keponakannya bisa merubah kekurangan yang dimilikinya.

Bagaimana dapat mencapai target, pasti kita ingin agar urusan bisa langsung beres?

Setiap orang mempunyai cara berbeda. Akan tetapi, cara yang terbaik seharusnya menggunakan sikap yang tulus dan ikhlas, nasehat serta pengarahan yang baik, dapat dengan mudah membuat orang mengurangi kesalahan yang dilakukan.

Respek terhadap bawahan adalah sebuah kemuliaan. Seorang manager di pemerintahan kota, ketika menghendaki bawahannya datang untuk menghadap, ia tidak pernah berkata, “Silakan anda ke ruang saya sebentar!” melainkan ia bekata, “Saya menunggu Anda di kantor”. Ia juga tidak pernah berkata, “Kerjakan ini, kerjakan itu, jangan mengerjakan ini, ” Melainkan selalu berkata, “Coba Anda pertimbangkan, melakukan begini bukankah lebih baik?”

Sesudah me-review sebuah surat yang dikerjakan oleh bawahannya, ia sering berkata, “Pendapat Anda tentang surat ini bagaimana?” Dan dalam memeriksa draft surat dari asistennya, ia selalu berkata, “Barangkali jika kita merubah kalimat ini menjadi begini, bisa agak lebih baik.” Ia selalu membiarkan bawahan mencoba untuk membuatnya, agar dalam kesalahan yang mereka perbuat, mereka bisa berhasil belajar dari pengalaman.

Setiap orang yang mempunyai harga diri, pasti menjaga muka. Oleh karena itu, dalam prosesnya, dalam memberitahu bawahan, gunakanlah lebih banyak usulan, kurangi perintah, hal itu bukan saja bisa menghindari untuk melukai harga diri mereka, selain itu bisa membuat bawahan merasakan bahwa anda mudah dekat dengan orang, patut dihormati, kemudian mereka dengan sendirinya akan senang menerima usulan dan bekerja sama dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp Chat Only