Pentingnya Perusahaan Mengelola Pekerja Intelektual

Pentingnya Mengelola Pekerja Intelektual - inafina.com
Pentingnya Mengelola Pekerja Intelektual – inafina.com

Jika kita ditanya tentang perusahaan mana yang bernilai jual tinggi di masa depan, kita harus cenderung memfokuskan perhatian pada seberapa new ideas intensive pertumbuhan sebuah perusahaan. Semakin kuat basis ide baru yang dimiliki, semakin mungkin perusahaan itu maju pesat di masa depan.

Produsen mesin ketik manual – sebagai contoh, tanpa penambahan basis ide baru yang memadai, ia pasti lenyap dari perkembangan jaman. Berkembangnya bisnis melalui jalur-jalur internet dengan sangat cepat, serta perkembangan yang tidak diperkirakan di sektor teknologi informasi, adalah bukti nyata bahwa hampir semua kemajuan bertumpu pada basis ide baru yang amat kuat. Dan yang berada di balik semua ide baru itu, tentu saja bukan teknologi, melainkan manusia yang masuk dalam klasifikasi pekerja otak (intelektual).

Masalah di Indonesia, dunia bisnis kita sudah terlalu lama terbelenggu pada pola pengelolaan tenaga manusia tingkat bawah yang serendah mesin. Penekanan pada anggukan kepala sebagai barometer loyalitas atau budaya asal bapak senang, pelitnya pengusaha dalam memenuhi ketentuan Upah Minimum Propinsi (UMP-kini istilah ini menjadi Upah Minimum Kerja atau UMK), motif investasi hanya karena biaya tenaga kerja yang murah, penanganan kasus perburuhan yang represif dengan kerja sama bersama oknum aparat, hanyalah sebagian kecil bukti kebiasaan pengelola yang menempatkan manusia serendah prasarana produksi.

Reorientasi Pengelolaan SDM

Menghadapi masa depan yang bertumpu amat kuat pada pekerja-pekerja intelektual, sudah selayaknya kita melakukan reorientasi dalam pengelolaan sumber daya manusia. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini, yaitu :

  1. Setiap organisasi yang mempekerjakan pekerja intelektual harus siap dengan certain degree of chaos. Harmoni, loyalitas, keteraturan adalah sebagian dari kaidah-kaidah stabil dalam mengelola yang harus ditinggalkan. Naifnya, kita masih menemukan banyak pengusaha maupun pimpinan puncak perusahaan yang mau mempekerjakan banyak pekerja intelektual, tetapi menghendaki semuanya berjalan teratur dan rapi sebagaimana manusia kelas bawah yang manut (Jawa: taat). Seperti layaknya orang minum obat namun tidak tahu efek sampingnya. Organisasi yang mempekerjakan pekerja intelektual, tidak lagi mengenal kata organisasi yang serba teratur, sebab kata yang lebih tepat adalah organizing, yakni semua serba bergerak, dinamis, sedikit kacau tapi penuh kemajuan.
  2. Disamping faktor kekacauan, kita juga memerlukan kematangan dalam mengelola perbedaan. Bila organisasi konvensional diikat oleh kaidah-kaidah kesamaan, loyalitas dan kebersamaan, begitu pekerja intelektual hadir di mana-mana, maka lem organisasi tidak hanya kesamaan, tapi juga perbedaan. Hal terakhir ini malah menjadi mesin pendorong kemajuan yang amat meyakinkan. Di tingkat inilah, pemimpin memerlukan logika perangkai bunga di mana keindahan justru terletak dalam perbedaan-perbedaan yang saling mengisi. Debat, dialog, saling tantang merupakan serangkaian kegiatan yang tidak saja dilembagakan, tapi juga diharuskan sebagai basis kemajuan ke depan. Bahkan dalam beberapa keadaan, perkelahian justru dipuji bukan dimaki. Konflik tidak dihindari, malah dimotivasi. Inilah indah dan seninya perbedaan.
  3. Berbeda dengan organisasi pada umumnya di mana tugas semua orang adalah mengikuti alur dan aturan, begitu ada niat memaksimalkan produktivitas pekerja intelektual, maka ada orang yang bertugas untuk mempertanyakan dan melanggar aturan. Sesuatu yang dulu disebut dengan kegilaan, sekarang malah ditempatkan sebagai keharusan. Bila dulu kegilaan model terakhir hanya bisa dilakukan di bagian litbang (penelitian dan pengembangan), sekarang ia menjadi menu sehari-hari di tingkat manajerial tertentu. Jangan heran, kalau tiba-tiba ada pemimpin perusahaan dan manajer yang datang ke kantor hanya mengenakan blue jeans, t-shirt, sepatu lari dan memakai topi cowboy, memaki seenaknya, datang selalu telat, atau malah tidak pernah mau mengisi absen.
  4. Ada saatnya kelak semua pekerja intelektual akan menentukan gajinya sendiri. Berapa pun kontribusi yang ia berikan, ia bebas menentukan nilai uang dari kontribusinya.

Digabung menjadi satu, keempat ide di atas memang mengguncang sejumlah tatanan perusahaan dan organisasi. Namun, ia tidak bisa dihindari. Kekacauan, perbedaan, pelanggaran, dan kebebasan adalah serangkaian hal yang menjadi lem kemajuan dari pekerja intelektual.

Saya memang menemukan perusahaan dan organisasi yang mengadopsi keempat kaidah di atas secara amat sempurna. Namun, ada saatnya kelak, ia akan menjadi prasyarat kemajuan yang tidak bisa ditolak. Terutama, begitu ide baru, teknologi baru, dan kebaruan-kebaruan lainnya menjadi satu-satunya fundamental kemajuan setiap perusahaan.

Sekarang, sebagaimana ditunjukkan oleh perusahaan rintisan (startup) seperti e-commerce, marketplace (contoh: inafina.com) dan lompatan-lompatan di industri teknologi internet, kebaruan tadi sudah muncul secara blak-blakan. Dengan adanya kecenderungan yang kuat, ada saatnya ia akan menjadi kekuatan dominan yang tidak bisa ditawar. Di titik itulah, kita memerlukan kekacauan, perbedaan, pelanggaran, dan kebebasan sebagai basis organisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp Chat Only